BERITA BERITA AKTUAL KABAR POLISI KEAMANAN

Adaptasi New Normal, Polisi di Cibarusah Ini Beri Penyuluhan Protokol Kesehatan Pada Anak-anak Usia Dini

Aiptu Nasichin Saat Beri Penyuluhan Pada Anak-Anak Usia Dini di Masjid Jamie Nurul Huda

AKTUALINDONESIA.com, (BEKASI)- COVID-19 telah membawa dampak pada seluruh sektor kehidupan manusia, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Sudah beberapa bulan sekolah-sekolah harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Namun, khusus untuk pendidikan pra sekolah atau taman kanak-kanak, dinas pendidikan mengeluarkan kebijaksanaan untuk meliburkan total.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Jumat 15 Mei 2020 menyebutkan bahwa kehidupan pasti akan berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru.

Pernyataan presiden tersebut mengharuskan semua pihak untuk bersiap pada tahap new normal. Nah, bagaimana dengan pendidikan anak-anak usia dini mengikuti tatanan kehidupan baru ini dan apa yang harus dipersiapan?

Hal ini membuat Kepolisian Sektor Cibarusah melalui personil Bhabinkamtibmas Desa Sindangmulya, Aiptu Nasichin melakukan kunjungan untuk memberikan bimbingan penyuluhan terhadap anak-anak usia dini, di Masjid Jamie Nurul Huda Kp.Cigutul Rt 01/03, Desa Sindangmulya, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu 08/07/ 2020) sore tadi sekitar pukul 16.30 WIB.

“Karakter anak-anak yang khas sangat membutuhkan pendampingan dan bimbingan orang dewasa di sekitarnya. Perlu kerja keras untuk bisa menerapkan new normal pada pendidikan anak,”kata Aiptu Nasichin kepada Aktualindonesia.

Menurutnya, ada beberapa hal yang dapat dipersiapkan untuk menghadapi tatanan kehidupan baru di tempat mengaji anak-anak usia dini. Pertama, menciptakan lingkungan yang aman untuk anak dan pendidik.

“Bagaimana sarana pendidik agama (mengaji) dapat menyediakan pelayanan yang aman selama pandemi? Hal yang perlu dilakukan yakni membatasi rombel (rombongan belajar) maksimal 10 anak per rombel. Setiap rombel tetap pada rombelnya dan tidak berpindah-pindah. Bila ada lebih dari satu rombel, maka setiap rombel harus berada di ruang yang berbeda,”ujar Aiptu Nasichin.

Selain itu, fasilitas harus mengikuti pedoman standar untuk mencegah penyebaran virus, seperti pengaturan tempat duduk dengan jarak yang dianjurkan, fasilitas cuci tangan dan menjaga kebersihan semua peralatan yang digunakan anak-anak usia dini tersebut.

“Melakukan social/physical distancing di tempat mengaji. Hal yang dapat dilakukan yakni membatasi jumlah anak maksimal 10 anak per rombel dalam satu kelas. Mengatur ruang kelas, mengatur jarak minimal enam kaki di setiap pusat kegiatan anak, meja, dan kursi anak,”tuturnya.

“Meniadakan kegiatan yang memberi kemungkinan anak berdekatan dan mencegah berbagi mainan dan bahan. Setiap anak bisa dibagikan tas ransel atau bok untuk menaruh masing-masing bahan anak. Kembangkan kegiatan dengan menerapkan praktik kebersihan dan social/physical distancing yang baik,”sambungnya.

Jika terdapat gejala, masih dikatakan Aiptu Nasichin, disarankan untuk tetap berada di rumah. Selain itu, pengukuran suhu badan saat memasuki lingkungan sekolah juga harus dilakukan.

“Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah hal wajib yang harus dilakukan di lingkungan mengaji dan sekolah untuk mencegah penularan virus. Upaya yang dapat dilakukan dalam menerapkan perilaku PHBS antara lain mewajibkan semua anak- anak usia dini, guru pembingbing dan orang tua untuk memakai masker dan penutup muka,”tutupnya.(A.riri).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: