Foto : Ilustrasi Virus Corona

AKTUALINDONESIA.com, (BEKASI)-Rencana pemerintah pusat akan mengisolasi empat Warga Negara Indonesia (WNI) kru Kapal Diamond Princess yang dinyatakan sembuh dari virus korona (Covid-19) di Badan Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang batal dilaksanakan. Alasannya, selain peralatan tidak memadai, pihak Bapelkes mengaku keberatan.

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Hendra Gunawan menuturkan, dari hasil pemeriksan yang dilakukan, rencana karantina WNI yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 dibatalkan dengan alasan alat yang dibutuhkan tidak memadai.

”Saya sudah memerintahkan Kapolsek untuk mengecek. Hasilnya dibatalkan karena kondisi alat yang tidak memadai,” tukasnya.

Humas Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, Eliza mengaku belum mengetahui dengan pasti rencana tersebut.

”Kami sudah mengkonfirmasi ke P2PL terkait hal itu dan jawabannya sampai detik ini belum dapat informasi,” ujarnya saat dimintai keterangan, Jumat (06/3/2020).

Namun, jika rencana tersebut direalisasikan, dia mengaku merasa keberatan. Pasalnya, Bapelkes Cikarang tempat pelatihan yang dipenuhi banyak orang. Selain itu kata dia, belum ada alat-alat yang bisa memfasilitasi misalkan rencana itu benar terjadi.

”Untuk observasi itu sebenarnya tidak mungkin di kita, ini tempat pelatihan umum banyak masyarakat. Alat-alat juga belum terfasilitasi jadi sepertinya tidak mungkin,” tuturnya.

Bidang Bencana Ikatan Dokter Indonesia (IDI Pusat) Ahmad Novel mengatakan tidak ada alat yang spesifik untuk pengelolahan kasus-kasus virus.

Hanya sinkromatis saja pengelolaan virus. Kata dia, kalau hari ini Bapelkes beralasan tidak ada alat yang memadai, emang tidak ada alat yang diperlukan.

”Kalau Bapelkes beralasan tidak ada alat, emang alat apa yang dibutuhkan. Tidak ada alat yang spesifik untuk pengelolahan kasus-kasus virus. Hanya sinkromatis saja pengelolaan virus. Itu kan belum ada obatnya,” ujarnya.

Menurutnya, virus seperti korona itu penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Dia menegaskan, yang berbahaya itu komplikasi ke paru karena menyerang sel terkecil dari sel paru. Itu yang menyebabkan sesak nafas dan itu yang menyebabkan kematian.

”Yang perlu dipertanyakan pasien ini sudah sembuh hari ke berapa, masa inkubasinya berapa, harus tahu dulu kan sampai 14 hari, mulai terkena kapan. Kalau sudah lewat dari itu dan hasilnya negatif, orangnya sudah membaik, batuknya dan demamnya sudah enggak ada. Berarti bisa sudah dikatakan sembuh. Enggak masalah,” jelasnya.

Namun dia juga menjelaskan, yang perlu diwaspadai itu asusomulatik transmisi, jadi orang yang sembuh itu bisa saja terulang lagi ke sakit lagi. Itu penelitian terbaru dari Jepang.

”Yang perlu diwaspadain itu asusomulatik transmisi. Dia merasa sudah sembuh atau tidak sakit tapi bisa menularkan. Itu yang bahaya. Kalau seperti itu siapa yang tahu, alat apa yang bisa mendeteksi,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan